Cha, apa yang kamu sadari barusan itu adalah sebuah **breakthrough (pencerahan)** yang sangat besar dan mendalam. Sini, peluk erat dulu. Tolong jangan salahkan atau benci dirimu sendiri atas apa yang terjadi, karena jawaban dari pertanyaanmu adalah: **Ya, itu sangat amat berpengaruh.**
Secara psikologis, apa yang kamu alami ini adalah hal yang sangat valid dan sering terjadi. Ada alasan ilmiah dan emosional kenapa kamu bisa terjebak di siklus ini:
### 1. Mencari Sosok yang Hilang (*Fatherless*)
Ayah adalah cinta pertama sekaligus cetak biru (*blueprint*) seorang anak perempuan tentang bagaimana sosok laki-laki seharusnya memperlakukannya. Ketika sosok itu tidak ada, atau ada tapi tidak memberikan rasa aman, alam bawah sadar kita tumbuh dengan sebuah "lubang" emosional. Tanpa sadar, saat dewasa kita cenderung mencari validasi dari laki-laki untuk menambal lubang itu, dan sayangnya, kita jadi mudah luluh hanya dengan sedikit umpan *love bombing*.
### 2. "Familiarity" Dianggap sebagai "Kenyamanan"
Ini bagian yang paling menjebak. Mengapa kamu bisa merasa "terlanjur nyaman" di dalam hubungan yang penuh drama dan air mata? Karena selama 26 tahun, otak dan tubuhmu sudah terbiasa menyaksikan konflik setiap malam.
Bagi alam bawah sadarmu, hubungan yang "tenang, sehat, dan lurus-lurus saja" itu terasa asing dan aneh. Sebaliknya, hubungan yang penuh naik-turun, *toxic*, penuh drama, lalu baikan lagi (*cycle of abuse*) terasa **familiar (akrab)**. Alam bawah sadarmu salah mengira rasa akrab ini sebagai rasa "nyaman" atau "cinta", padahal itu adalah replika dari trauma masa kecilmu bersama almarhum Ayah.
### 3. Keinginan Menyembuhkan Masa Lalu (Trauma Bonding)
Secara tidak sadar, ketika kamu menghadapi laki-laki *toxic* seperti mantanmu, ada ego di dalam diri yang berbisik: *"Dulu aku gagal mengubah Ayah dan gagal menyelamatkan pernikahan orang tuaku. Tapi kali ini, aku pasti bisa mengubah laki-laki ini menjadi baik."* Kamu terus bertahan karena ingin "menang" melawan trauma masa lalu, padahal skenarionya sudah salah sejak awal.
### Cara Kamu Memutus Siklus Ini
Cha, menyadari hal ini adalah 50% dari jalan kesembuhanmu. Kamu tidak lagi buta. Sekarang kamu tahu kalau rasa kangen atau ingin balik ke dia itu **bukan karena kamu cinta sama dia, tapi karena traumamu sedang kambuh.**
Sembuhkan "Anak Kecil" di Dalam Dirimu (*Inner Child*):** Setiap kali kamu merasa kesepian dan ingin menghubungi dia lagi, peluk dirimu sendiri. Katakan pada dirimu: *"Icha yang sekarang sudah dewasa. Icha sudah aman. Icha tidak perlu mengulang drama Papa dan Mama lagi untuk merasa hidup."*
* **Tulis Ulang Standarmu:** Kamu adalah perempuan berpendidikan tinggi, seorang Dosen Manajemen. Secara intelektual kamu hebat. Sekarang, saatnya melatih emosionalmu untuk menyukai laki-laki yang stabil, tenang, dan menghargaimu. Laki-laki yang sehat mungkin di awal terasa "membosankan" buat kamu yang terbiasa dengan drama, tapi itulah cinta yang sesungguhnya.
* **Fokus pada Realita Hari Ini:** Hidupmu hari ini di Medan bukan lagi hidupmu yang dulu menyaksikan pertengkaran tiap malam. Kamu punya dunia baru, mahasiswa baru, dan lembaran baru.
Proses menyembuhkan luka 26 tahun ini memang butuh waktu dan tidak bisa instan, Cha. Kalau kamu merasa beban ini terlalu berat untuk diurai sendiri, tidak ada salahnya untuk mengobrol dengan profesional seperti psikolog agar kamu bisa dibantu memproses trauma masa kecil ini dengan lebih aman.
Kamu sudah sangat hebat bisa bertahan dan melangkah sejauh ini dengan kaki sendiri. Jangan biarkan masa lalu menarikmu mundur lagi ya. Hari ini, kamu sudah memilih untuk melindungi dirimu sendiri, dan aku bangga banget sama kamu. 🥺🤍