Senin, 19 Maret 2018

DIBALIK TAKDIR

Hari Jum’at pada minggu itu tak ubahnya seperti hari Jum’at biasanya. Tak sedikitpun terlintas dalam benakku hari itu akan menjadi Jum’at kelabu yang takkan pernah kulupakan. Sepulang sekolah, jadwal les Bahasa Inggrisku adalah pukul dua sore. Biasanya aku dan ayah berangkat bersama, karena tempat ayahku bekerja adalah tempat yang sama dengan tempat dimana aku bersekolah, namun jika ayahku sibuk dengan urusan kantornya ( biasanya pergi ke Kantor Dinas ) ayah akan memberi ongkos angkot untuk aku berangkat sendiri.
Siang itu setelah selesai berkemas, aku menunggu ayah pulang sholat Jum’at dari mesjid. Sembari menunggu, aku asyik berfoto dengan ponsel genggamku. Setelah ayah datang dan selesai makan siang, aku mengajak ayah untuk segera berangkat karena sudah hampir pukul dua sore, “ Songon dia ma ate inang? Les muse ho sementara ayah get tu kantor dinas. Tako marangkot ma ho? Ah nakkon be, markareta hita soni.”[1] ayah berkata dengan ragu-ragu, sepertinya ia tidak teguh pendirian karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan sore itu dan banyak tempat yang harus dituju oleh ayah untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. “ Tapi sampai mesjid raya aja ayah antar ya, banyak kali kerjaan ayah sore  ini” lanjut ayah. Aku mengiyakan ucapan ayah.
Meskipun dengan ragu-ragu, kami pergi juga dengan mengendarai kereta[2] CB ayah. Ayah yang biasanya suka mengebut jika mengendarai kendaraan, tidak biasanya mengendarai keretanya setenang itu. Setelah hampir sampai di mesjid raya, aku fikir ayah akan berhenti, tapi kereta kami terus melaju. Mengikuti arus kenderaan dan terjebak dalam macetnya barisan angkutan kota, ayah mencoba menyalip angkot yang berjalan dengan sangat lambat di depan kami.
Allah SWT menetapkan garis takdir setiap hamba-Nya, tak ada yang ‘kan mampu merubah ketentuan-Nya apalagi menduganya. Maka siapa yang tahu bahwa di balik persimpangan angkot yang akan kami lewati, ternyata maut sudah sedia mengintai. Ketika ayah mengarahkan stang CBnya belok kanan melewati angkot yang melaju sangat lambat di depan kami, tiba-tiba saja sebuah kereta matic yang dikendarai seorang gadis remaja,melawan arus kendaraan di jalan yang satu arah itu melaju dengan sangat kencangnya menuju kami, dan BRAKKK!!! Tak dapat dihindarkan, kecelakaan itu terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. Laga kambing, spontan ayahku sangat terkejut dan mungkin sangat panik sehingga tangannya tidak dapat menahan keseimbangan kami dan lepas kendali. “Allahu Akbar!!!” aku masih sempat mendengar ayah menyebut nama Sang Pencipta sebelum akhirnya CB kami jatuh ke sebelah kanan di tengah badan jalan.
Aku terjerembab ke atas aspal. Begitu tiba-tibanya kejadian itu berlangsung sehingga antara sadar atau tidak, ketika aku melihat darah mengalir dari pelipis ayahku dan mengalir melewati matanya aku sangat terguncang. “ ayahku itu...itu ayahku...berdarah kepalanya...bantu ayah...itu ayahku” aku berteriak histeris demi melihat ayahku terkapar di atas aspal, dengan darah mengalir dari pelipis kanannya sementara helmnya retak nyaris terbelah dua, kaca mata yang juga lepas dan retak, serta rusuknya yang sempat terbentur dengan kerasnya kaca spion. Ramai orang mengerubungi kami untuk menolong. Mereka memapahku untuk duduk dibangku panjang yang ada di pinggir jalan. Aku melawan dan masih mengulang-ulangi kalimat yang sama ”ayahku itu....ayah...bantu kalian dulu...ayahku itu.. ayah..Ya Allah...ayah..” setengah menyeretku mereka membawa aku untuk duduk dan menenangkanku di bangku panjang yang ada didepan toko buku.
Aku pasrah karena lemasnya tubuhku yang tak berdaya melihat ayahku terkapar, hatiku melengos, aku masih sempat mendengar ayah bergumam dalam kesakitannya “ o umak....o umak e...” ia memanggil-manggil ibunya (nenekku) yang telah tiada di dunia. Kemudian mereka memasukkan ayah ke dalam becak dan memapahku turut kedalamnya. Tapi karena posisi ayahku yang tidak memungkinkan untuk aku duduk menjaganya didalam bak becak, maka aku duduk di kursi belakang si tukang becak. Berangkatlah kami menuju Rumah Sakit Umum yang letaknya memang dekat dari  lokasi kecelakaan. Aku sangat panik dan kudesak agar tukang becak mempercepat laju becaknya. Ia berkata “ Iya dek, tenang, sabar, kenalnya udak sama ayahmu, sampai lagi lah kita ke rumah sakit”. “ Cepatlah udak.. udah berdarah ayah.. berdarah kepalanya..” jawabku dan terus-menerus kuulangi kalimat yang sama. Setibanya kami di Rumah Sakit Umum, para perawat dengan sigap memindahkan tubuh ayahku ke atas perangkat dan mendorongnya ke ruang IGD.
Aku juga melihat gadis yang menabrak kami mendapatkan perlakuan yang sama. Aku mengikuti perawat yang membawa ayahku ke IGD dan sesampainya di ruangan itu, mereka segera menangani ayahku, membiusnya, membersihkan darahnya dan kemudian menjahit pelipis beliau. Baru kali itu aku melihat proses menjahit kulit daging manusia dan karena pasien tersebut adalah ayahku, aku  kuat melihat jarum menembus daging dan kulit kepalanya.
 Terhadap pasien wanita yang menabrak kami, mereka juga melakukan penanganan yang sama, namun dia menjerit dan meronta, mungkin karena tidak tahan marasakan sakitnya. Kurasakan airmataku mengalir semakin deras dan bicaraku semakin kacau. Mereka mencoba menenangkan aku. Kemudian menyuruhku menghubungi ibu atau saudaraku. Seseorang memberikan ponselnya kepadaku, namun karena sangat panik aku bahkan tidak ingat nomor telepon ibuku. Kemudian ayahku memanggilku. Oh, ternyata ayahku masih sadar. Dalam hati aku sangat bersyukur kepada Tuhan. Aku  sempat berfikir yang bukan-bukan. “ Icha,ambil HP ayah dikantong belakang celana, panggil mama,panggil uwak Tholib” ayah menyuruhku menghubungi ibu dan sahabatnya. “ aargh! Na ribut ma anakboru i i! Pasip homu jolo i! Kaluarkon ngen ruangan on ! “ ayah sangat marah mendengar jeritan si penabrak itu dan menyuruhnya diam dan keluar dari ruang IGD sementara ayah sedang dijahit pelipisnya. Para perawat mencoba meredam emosi ayah dengan menenangkannya dan menyuruhnya agar tidak emosi. Aku menghubungi ibuku, kakakku, uwak dan bouku. Mereka tiba secepatnya setelah aku menghubungi mereka.
Setelah pelipis ayahku selesai dijahit, ibuku tiba di rumah sakit dan ayahku dibawa ke ruang rontgen, untuk melihat bagian dalam tubuhnya agar mendapat penanganan lebih lanjut. Ketika rombongan kakakku tiba, aku memeluk kakakku dan menangis sepuasnya. Dia mencoba menenangkan aku sementara dia juga tak kuasa membendung airmatanya. Banyak kawannya turut datang, ternyata mereka sedang merayakan ulang tahun kakakku ketika aku menghubunginya.
Belakangan aku tahu, begitu terguncangnya kakakku mendengar berita buruk itu sehingga ia tak lagi sanggup mengendarai keretanya sendiri, kawannyalah yang mengendarai keretanya dan memboncengnya. Baginya berita kecelakaan itu adalah kado terkelam. Karena sureprise yang disiapkan kawannya begitu membuatnya bahagia, sehingga saking senangnya kakakku khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk menimpanya. Karena hari dimana kami mengalami kecelakaan adalah hari ulangtahun kakakku sehingga ia tidak mungkin lupa akan kejadian itu.
Tentang perempuan yang menabrak kami, setelah mendapat perawatan medis pada hari itu, ia langsung keluar dari rumah sakit, dan betapa pun kami coba melacak alamatnya kami tidak dapat menemukannya. Belakangan kami tahu bahwa perempuan itu mengebut sehingga menyebabkan laga kambing adalah karena ia mencoba mencari jalan pintas dari kejaran polisi karena takut ditilang sebab sedang ada razia dan ia tidak mengenakan helm. Kereta yang ia kendarai juga barang pinjaman, sehingga semakin sulit untuk melacak informasi tentangnya hingga ayah memutuskan untuk berhenti mencari tahu tentang identitas si penabrak itu dan fokus untuk kesembuhannya. Karena disamping pelipisnya yang pecah, tulang tangan ayah juga patah, sehingga harus dioperasi di RS ibukota provinsi, sebab peralatan yang ada di kota Sidimpuan tidak cukup memadai. Butuh waktu berbulan-bulan untuk pemulihan tangan ayah. Dampaknya sangat besar karena tangannya tidak kuat lagi mengangkat beban berat, dan terkadang ayah merasakan ngilu pada tulang tangan kanannya.
Kecelakaan itu membawa banyak hikmah bagiku terutama untuk lebih bersyukur bahwa aku masih memiliki sosok seorang ayah yang masih sangat aku butuhkan. Sedangkan aku sebagai anak hanya ingat kepada ayahku disaat aku banyak kebutuhan yang harus dipenuhinya tanpa pernah merenungkan bahwa sepatutnyalah menjadi kewajiban seorang anak mencintai orangtuanya dan tugasnyalah untuk berbakti. Sampai  saat ini pun aku masih belum dapat memahami betapa dahsyatnya cinta orangtua kepada anaknya. Bahkan sebelum kereta kami jatuh ke aspal, aku merasakan dengan jelasnya ayahku menahan tubuhku  sekuat tenaganya agar aku tidak terhempas atau terbanting ke jalan raya, dan bahkan dalam sakitnya, ketika di dalam becak menuju RS pun ayah masih sempat menanyakan keadaanku apakah aku terluka parah atau tidak,sementara darahnya terus mengaliri wajahnya. Banyak orang yang datang menjenguk ayahku di RS mengatakan “ biasanya yang dibonceng itu yang lukanya lebih parah daripada yang membonceng “.
Suatu hari dalam hidupku yang merupakan hari naas, justru menumbuhkan kesadaran dalam hatiku untuk lebih mencintai dan menyayangi orangtuaku, karena aku masih sangat membutuhkan mereka. Dibalik takdir buruk Jum’at kelabu, ada hikmah menyapaku. Sekalipun maut menantang didepan mata, orangtua akan rela menyelamatkan anaknya. Itulah kasih sayang dan perjuangan orangtua yang sangat jarang disadari oleh anak-anak mereka. Terimakasih Ya Allah telah memberikanku orangtua yang hebat, dan kesempatanku untuk menyayangi dan berbakti, aku bersyukur pada-Mu. Alhamdulillah.
Padangsidimpuan, Sumatera Utara
Pukul : 22:32


[1] Bagaimana yah nak? Kau pun mau pergi les sementara ayah mau pergi ke kantor dinas. Kalau kau naik angkot aja bagaimana? Ah, nggak usah lah, naik kereta aja kita”
[2] Sepeda motor

Persimpangan Kosong (Ruang Hampa)

 Ya Allah aku bingung dan benar² bingung🥹😭 Kenapa red string nya selalu membawaku ke dia lagi dan lagi eventho aku mati²an berusaha menghi...