Hari Jum’at pada minggu
itu tak ubahnya seperti hari Jum’at biasanya. Tak sedikitpun terlintas dalam
benakku hari itu akan menjadi Jum’at kelabu yang takkan pernah kulupakan.
Sepulang sekolah, jadwal les Bahasa Inggrisku adalah pukul dua sore. Biasanya
aku dan ayah berangkat bersama, karena tempat ayahku bekerja adalah tempat yang
sama dengan tempat dimana aku bersekolah, namun jika ayahku sibuk dengan urusan
kantornya ( biasanya pergi ke Kantor Dinas ) ayah akan memberi ongkos angkot
untuk aku berangkat sendiri.
Siang
itu setelah selesai berkemas, aku menunggu ayah pulang sholat Jum’at dari
mesjid. Sembari menunggu, aku asyik berfoto dengan ponsel genggamku. Setelah
ayah datang dan selesai makan siang, aku mengajak ayah untuk segera berangkat
karena sudah hampir pukul dua sore, “ Songon
dia ma ate inang? Les muse ho sementara ayah get tu kantor dinas. Tako
marangkot ma ho? Ah nakkon be, markareta hita soni.” ayah berkata dengan ragu-ragu,
sepertinya ia tidak teguh pendirian karena banyaknya pekerjaan yang harus
diselesaikan sore itu dan banyak tempat yang harus dituju oleh ayah untuk
menyelesaikan tugas-tugasnya. “ Tapi
sampai mesjid raya aja ayah antar ya, banyak kali kerjaan ayah sore ini” lanjut ayah. Aku mengiyakan ucapan
ayah.
Meskipun
dengan ragu-ragu, kami pergi juga dengan mengendarai kereta
CB ayah. Ayah yang biasanya suka mengebut jika mengendarai kendaraan, tidak biasanya
mengendarai keretanya setenang itu. Setelah hampir sampai di mesjid raya, aku
fikir ayah akan berhenti, tapi kereta kami terus melaju. Mengikuti arus
kenderaan dan terjebak dalam macetnya barisan angkutan kota, ayah mencoba
menyalip angkot yang berjalan dengan sangat lambat di depan kami.
Allah
SWT menetapkan garis takdir setiap hamba-Nya, tak ada yang ‘kan mampu merubah
ketentuan-Nya apalagi menduganya. Maka siapa yang tahu bahwa di balik
persimpangan angkot yang akan kami lewati, ternyata maut sudah sedia mengintai.
Ketika ayah mengarahkan stang CBnya belok kanan melewati angkot yang melaju
sangat lambat di depan kami, tiba-tiba saja sebuah kereta matic yang dikendarai seorang gadis remaja,melawan arus kendaraan
di jalan yang satu arah itu melaju dengan sangat kencangnya menuju kami, dan
BRAKKK!!! Tak dapat dihindarkan, kecelakaan itu terjadi begitu cepat dan
tiba-tiba. Laga kambing, spontan ayahku sangat terkejut dan mungkin sangat panik
sehingga tangannya tidak dapat menahan keseimbangan kami dan lepas kendali. “Allahu Akbar!!!” aku masih sempat
mendengar ayah menyebut nama Sang Pencipta sebelum akhirnya CB kami jatuh ke
sebelah kanan di tengah badan jalan.
Aku
terjerembab ke atas aspal. Begitu tiba-tibanya kejadian itu berlangsung
sehingga antara sadar atau tidak, ketika aku melihat darah mengalir dari
pelipis ayahku dan mengalir melewati matanya aku sangat terguncang. “ ayahku itu...itu ayahku...berdarah
kepalanya...bantu ayah...itu ayahku” aku berteriak histeris demi melihat
ayahku terkapar di atas aspal, dengan darah mengalir dari pelipis kanannya
sementara helmnya retak nyaris terbelah dua, kaca mata yang juga lepas dan
retak, serta rusuknya yang sempat terbentur dengan kerasnya kaca spion. Ramai
orang mengerubungi kami untuk menolong. Mereka memapahku untuk duduk dibangku
panjang yang ada di pinggir jalan. Aku melawan dan masih mengulang-ulangi
kalimat yang sama ”ayahku
itu....ayah...bantu kalian dulu...ayahku itu.. ayah..Ya Allah...ayah..”
setengah menyeretku mereka membawa aku untuk duduk dan menenangkanku di bangku
panjang yang ada didepan toko buku.
Aku
pasrah karena lemasnya tubuhku yang tak berdaya melihat ayahku terkapar, hatiku
melengos, aku masih sempat mendengar ayah bergumam dalam kesakitannya “ o umak....o umak e...” ia memanggil-manggil
ibunya (nenekku) yang telah tiada di dunia. Kemudian mereka memasukkan ayah ke
dalam becak dan memapahku turut kedalamnya. Tapi karena posisi ayahku yang
tidak memungkinkan untuk aku duduk menjaganya didalam bak becak, maka aku duduk
di kursi belakang si tukang becak. Berangkatlah kami menuju Rumah Sakit Umum
yang letaknya memang dekat dari lokasi
kecelakaan. Aku sangat panik dan kudesak agar tukang becak mempercepat laju
becaknya. Ia berkata “ Iya dek, tenang,
sabar, kenalnya udak sama ayahmu,
sampai lagi lah kita ke rumah sakit”. “
Cepatlah udak.. udah berdarah ayah..
berdarah kepalanya..” jawabku dan terus-menerus kuulangi kalimat yang sama.
Setibanya kami di Rumah Sakit Umum, para perawat dengan sigap memindahkan tubuh
ayahku ke atas perangkat dan mendorongnya ke ruang IGD.
Aku
juga melihat gadis yang menabrak kami mendapatkan perlakuan yang sama. Aku
mengikuti perawat yang membawa ayahku ke IGD dan sesampainya di ruangan itu,
mereka segera menangani ayahku, membiusnya, membersihkan darahnya dan kemudian
menjahit pelipis beliau. Baru kali itu aku melihat proses menjahit kulit daging
manusia dan karena pasien tersebut adalah ayahku, aku kuat melihat jarum menembus daging dan kulit
kepalanya.
Terhadap pasien wanita yang menabrak kami,
mereka juga melakukan penanganan yang sama, namun dia menjerit dan meronta,
mungkin karena tidak tahan marasakan sakitnya. Kurasakan airmataku mengalir
semakin deras dan bicaraku semakin kacau. Mereka mencoba menenangkan aku.
Kemudian menyuruhku menghubungi ibu atau saudaraku. Seseorang memberikan
ponselnya kepadaku, namun karena sangat panik aku bahkan tidak ingat nomor telepon
ibuku. Kemudian ayahku memanggilku. Oh, ternyata ayahku masih sadar. Dalam hati
aku sangat bersyukur kepada Tuhan. Aku sempat berfikir yang bukan-bukan. “ Icha,ambil HP ayah dikantong belakang
celana, panggil mama,panggil uwak Tholib” ayah menyuruhku menghubungi ibu
dan sahabatnya. “ aargh! Na ribut ma
anakboru i i! Pasip homu jolo i! Kaluarkon ngen ruangan on ! “ ayah sangat
marah mendengar jeritan si penabrak itu dan menyuruhnya diam dan keluar dari
ruang IGD sementara ayah sedang dijahit pelipisnya. Para perawat mencoba
meredam emosi ayah dengan menenangkannya dan menyuruhnya agar tidak emosi. Aku
menghubungi ibuku, kakakku, uwak dan bouku. Mereka tiba secepatnya setelah
aku menghubungi mereka.
Setelah
pelipis ayahku selesai dijahit, ibuku tiba di rumah sakit dan ayahku dibawa ke
ruang rontgen, untuk melihat bagian dalam tubuhnya agar mendapat penanganan
lebih lanjut. Ketika rombongan kakakku tiba, aku memeluk kakakku dan menangis
sepuasnya. Dia mencoba menenangkan aku sementara dia juga tak kuasa membendung
airmatanya. Banyak kawannya turut datang, ternyata mereka sedang merayakan
ulang tahun kakakku ketika aku menghubunginya.
Belakangan
aku tahu, begitu terguncangnya kakakku mendengar berita buruk itu sehingga ia
tak lagi sanggup mengendarai keretanya sendiri, kawannyalah yang mengendarai
keretanya dan memboncengnya. Baginya berita kecelakaan itu adalah kado
terkelam. Karena sureprise yang
disiapkan kawannya begitu membuatnya bahagia, sehingga saking senangnya kakakku
khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk menimpanya. Karena hari dimana kami
mengalami kecelakaan adalah hari ulangtahun kakakku sehingga ia tidak mungkin
lupa akan kejadian itu.
Tentang
perempuan yang menabrak kami, setelah mendapat perawatan medis pada hari itu, ia
langsung keluar dari rumah sakit, dan betapa pun kami coba melacak alamatnya
kami tidak dapat menemukannya. Belakangan kami tahu bahwa perempuan itu
mengebut sehingga menyebabkan laga kambing adalah karena ia mencoba mencari
jalan pintas dari kejaran polisi karena takut ditilang sebab sedang ada razia
dan ia tidak mengenakan helm. Kereta yang ia kendarai juga barang pinjaman,
sehingga semakin sulit untuk melacak informasi tentangnya hingga ayah
memutuskan untuk berhenti mencari tahu tentang identitas si penabrak itu dan
fokus untuk kesembuhannya. Karena disamping pelipisnya yang pecah, tulang
tangan ayah juga patah, sehingga harus dioperasi di RS ibukota provinsi, sebab
peralatan yang ada di kota Sidimpuan tidak cukup memadai. Butuh waktu berbulan-bulan
untuk pemulihan tangan ayah. Dampaknya sangat besar karena tangannya tidak kuat
lagi mengangkat beban berat, dan terkadang ayah merasakan ngilu pada tulang
tangan kanannya.
Kecelakaan
itu membawa banyak hikmah bagiku terutama untuk lebih bersyukur bahwa aku masih
memiliki sosok seorang ayah yang masih sangat aku butuhkan. Sedangkan aku
sebagai anak hanya ingat kepada ayahku disaat aku banyak kebutuhan yang harus
dipenuhinya tanpa pernah merenungkan bahwa sepatutnyalah menjadi kewajiban seorang
anak mencintai orangtuanya dan tugasnyalah untuk berbakti. Sampai saat ini pun aku masih belum dapat memahami
betapa dahsyatnya cinta orangtua kepada anaknya. Bahkan sebelum kereta kami
jatuh ke aspal, aku merasakan dengan jelasnya ayahku menahan tubuhku sekuat tenaganya agar aku tidak terhempas
atau terbanting ke jalan raya, dan bahkan dalam sakitnya, ketika di dalam becak
menuju RS pun ayah masih sempat menanyakan keadaanku apakah aku terluka parah
atau tidak,sementara darahnya terus mengaliri wajahnya. Banyak orang yang
datang menjenguk ayahku di RS mengatakan “
biasanya yang dibonceng itu yang lukanya lebih parah daripada yang membonceng “.
Suatu
hari dalam hidupku yang merupakan hari naas, justru menumbuhkan kesadaran dalam
hatiku untuk lebih mencintai dan menyayangi orangtuaku, karena aku masih sangat
membutuhkan mereka. Dibalik takdir buruk Jum’at kelabu, ada hikmah menyapaku. Sekalipun
maut menantang didepan mata, orangtua akan rela menyelamatkan anaknya. Itulah
kasih sayang dan perjuangan orangtua yang sangat jarang disadari oleh anak-anak
mereka. Terimakasih Ya Allah telah memberikanku orangtua yang hebat, dan
kesempatanku untuk menyayangi dan berbakti, aku bersyukur pada-Mu.
Alhamdulillah.
Padangsidimpuan, Sumatera
Utara
Pukul : 22:32